RADIO KOMUNITAS K FM MAGELANG
GAWE ADEM LAN AYEM
Jln.Muntilan-Dukun,Km 5,Komplek Lantai 2 MTS Aswaja Dukun,Kecamatan Dukun

8 Jul 2013

Home » » Luar Biasa, Menikmati Ramadan di Atas Merapi

Luar Biasa, Menikmati Ramadan di Atas Merapi


Merapi

Merapi  - Di bulan Ramadan dan di tengah kekhusyukan puasa, sebuah perjalanan mensyukuri nikmat Tuhan dimulai. Mendaki Gunung Merapi dan meyaksikan matahari terbit di Ramadan membuat hati bergetar.

Perjalanan ini dilakukan pada 11-12 Agustus 2012 lalu. Malam itu sekitar pukul 21.00 WIB, ketika saya berencana tidur, tiba-tiba ponsel berdering. Ada pesan masuk rupanya.

Sebuah ajakan mengejutkan dari teman rupanya. "Temenin ke Merapi yuk malam ini," tulis teman saya Inel.

Inel adalah kakak angkatan saya di kampus. Kami juga pernah berada dalam satu kepanitian pada suatu acara.

Menjawab pesan, akhirnya disepakati kami berangkat bersama seorang teman lagi bernama Rian. Salah satu mini market dekat kampus pun dijadikan lokasi berkumpul.
         Â
Akhirnya, saya yang pada awalnya berniat tidur segera beranjak ke kamar mandi untuk cuci muka. Sebenarnya sempat terlintas di pikiran apakah ini ide gila, mendaki Gunung Merapi sedangkan besoknya kami harus menjalankan puasa.

Rasa takut puasa batal akibat kelelahan sempat terlintas juga. Namun, ketakutan itu langsung dikalahkan dengan semangat karena inilah pengalaman pertama mendaki gunung di bulan Ramadan.

Setelah packing barang, saya lantas menuju kosan Rian untuk menjemput dan lanjut ke tempat berkumpul. Ternyata Inel sudah tiba lebih dulu, kami pun segera meluncur ke basecamp Merapi di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jateng.

Karena kami berangkat dari Yogyakarta, perjalanan menuju Selo menghabiskan waktu sekitar 1 jam 30 menit. Sekitar pukul 23.30 WIB, kami berangkat dari Yogyakarta.

Begitu sampai di Muntilan, kami berhenti sebentar untuk membeli nasi uduk, bekal sahur. Sekitar pukul 01.00 WIB, kami pun tiba di basecamp Merapi, dan memulai pendakian pukul 01.30 WIB.

Trek awal yang harus dilalui adalah jalan aspal yang tidak begitu panjang, tapi cukup menguras tenaga. Sayangnya, jalan aspal ini tidak begitu panjang, hanya sampai gardu pandang di New Selo.

Setelah melewati New Selo, barulah kami memasuki jalur pendakian yang didominasi oleh ladang penduduk. Saat sampai batas ladang, kami disambut oleh gerbang pendakian Merapi. Gerbang ini termasuk baru karena beberapa lalu ketika saya mendaki, gerbang belum ada.

Setelah istirahat sebentar, kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Yang menyenangkan, di saat mendaki gunung beberapa kali terlihat bintang jatuh.

Beruntung sekali, cuaca malam itu sangat terang, angin hanya bertiup sesekali. Langit sangat cerah dengan ribuan bintang yang bertaburan. Bulan sabit menyempurnakan keindahan langit malam itu.

Sekitar pukul 03.40 WIB kami pun sampai pada Patok 1 atau Pos 1 Merapi. Di sini saya dan teman-teman beristirahat cukup lama sekaligus makan sahur, nasi bungkus yang dibeli di Muntilan tadi pun segera dibuka dan dilahap.

Beberapa menit kemudian adzan subuh pun terdengar yang menandakan waktu sahur sudah habis. Segera kami menunaikan ibadah salat subuh agar bisa melanjutkan perjalanan kembali. Sebelumnya terjadi perbincangan apakah kami akan lanjut naik atau turun kembali ke basecamp.

Saya pun bertanya dengan teman apakah akan terus melanjutkan perjalanan atau turun? Yang mengkhawatirkan, kalau nekat menanjak nanti malah kelelahan.

Ternyata Rian sependapat dengan saya. Namun, Inel mengatakan untuk lanjut perlahan, minimal sampai Pasar Bubrah, kamp terakhir sebelum puncak.

Akhirnya, sekitar pada pukul 05.00 WIB kami pun melanjutkan perjalanan kembali dengan tujuan Pasar Bubrah. Tak berapa lama matahari pun mulai menampakan diri, inilah momen paling saya suka, sunrise.

Indahnya sunrise pagi ini, langit yang amat bersih, jauh dari hingar bingar kota yang penuh polusi. Setelah beberapa jam berjalan, kami pun tiba di Pasar Bubrah.

Di sinilah cobaan dimulai. Tenggorokan mulai terasa kering dan merengek-rengek untuk dibasahi. Setan dalam diri pun mulai menggoda. Tapi saya tidak ingin membatalkan puasa, dan meyakinkan diri kalau masih kuat puasa. Setelah perang pikiran dengan setan, akhirnya saya menang dan tak tergoda buat minum.

Matahari sudah mulai terik, dan saya pun mengajak teman-teman untuk segera turun. Tapi ternyata yang lain masih ingin lanjut ke puncak.

Dalam hati saya berkata jangan-jangan Inel tidak puasa. Ya sudahlah, daripada makin lama di sini, saya dan Rian setuju untuk menunggu Inel di Pasar Bubrah. Sedangkan Inel dan teman bernama Ebot lanjut menanjak.

Saya pun memanfaatkan waktu menunggu dengan tidur di sela-sela batu yang ada di Pasar Bubrah. Tak terasa, matahari sudah tepat berada di atas kepala. Panas!

Sekitar pukul 12.30 WIB, Inel dan Ebot sampai kembali di Pasar Bubrah. Kami pun bergegas untuk melanjutkan perjalanan turun, karena sengatan matahari sangat panas.

Perjalanan turun ke basecamp diiringi rasa haus yang sangat menggoda iman untuk meminum air yang ada di dalam tas. Tapi sekali lagi saya menang dalam perang melawan setan. Saya tidak tergoda untuk minum.

Beberapa jam kemudian kami sampai di Pos 1 dan istirahat sebentar. Tiba-tiba terdengar suara orang seperti menenggak air minum. Ternyata Ebot minum, sedangkan saya, Rian dan Inel menahan haus.

Melihat itu, segera kami melanjutkan perjalanan sebelum rasa haus, lapar dan kantuk menyerang. 1 Jam perjalanan dari Pos 1, kami pun tiba di New Selo.

Di sana, kami membersihkan muka yang penuh debu. Oh iya, kebetulan saat itu jalur pendakian Merapi via Selo memang sangat berdebu.

Setelah bersih-bersih, kami langsung kembali menuju basecamp. Sekitar jam 15.00 WIB kami sampai dengan selamat di basecamp.

Inel dan ebot merebahkan tubuh sambil menunggu waktu berbuka puasa. Sementara saya dan Rian pergi ke dusun tempat saya melaksanakan KKN beberapa bulan yang lalu. Kebetulan letak dusunnya dekat dengan basecamp Merapi.

Setelah bersilaturahmi, saya dan Rian pun kembali menuju basecamp untuk menemui Inel dan Ebot. Saya pun mengajak mereka bersiap untuk berbuka puasa di Warung Tongseng Bu Heru yang terletak di Terminal Selo.

Menurut saya, tongseng Bu Heru enak sekali. Tak terasa azan magrib pun berkumandang. Kami berbuka puasa dengan manyantap tongseng kambing yang rasanya super enak.

Selesai makan, kami pun segera bergegas untuk pulang kembali ke Yogyakarta untuk menghindari kemalaman. Akhirnya, sampai juga kami di Yogyakarta dan tentunya kosan masing-masing.

Saya pun berterimakasih kepada Allah yang telah memberikan kami kelancaran selama dalam perjalanan. Juga untuk Inel yang sudah memberikan kami pengalaman pertama naik di bulan puasa, dan dengan puasa yang nggak batal.

Tak ketinggalan ucapan terima kasih untuk Ebot yang sudah membuat saya terdiam ketika dengan nikmatnya dia meminum air. Satu lagi, untuk Rian yang bergantian membawa tas dengan saya.
Oleh: M Aulia Rahman M 
Sumber : http://travel.detik.com/read/2013/07/09/112500/2077678/1025/luar-biasa-menikmati-ramadan-di-atas-merapi?8800041024 
Share this article :